Tidak bermaksud
untuk memisahkanmu dengan kedua orangtuamu. Tapi bila nanti kita sudah bersatu
dan memiliki dunia baru, keluarga yang akan kita bangun bersama. Memulai semuanya
dari titik awal, dari bukan apa-apa mencari sebuah kebahagiaan bersama. Ia bersama,
hanya kau dan aku. Kita berdua pada awalnya dan entah akan jadi berapa.

Bila sudah menikah nanti, kita akan belajar hidup mandiri. hidup tanpa uluran tangan kedua
orang tua kita. Walau masih mengenakan nama besar mereka, tapi kita akan coba
membesarkan nama kita di mata dunia dengan usaha kita sendiri.
Percayalah,
bagaiaman pun kerasnya kehidupan di depanmu. aku akan setia berada di
sampingmu, menemani langkahmu hingga akhir. Inilah bukti cinta yang
sesungguhnya, dari sebuah janji yang terucap di hari kita disatukan. Tapi jika
kau masih ragu, aku tidak akan memaksamu sekarang. Pilihlah yang terbaik
untukmu, dan akau akan menerima segala keputusanmu.
Nanti,
baiknya kita tinggal di rumah sendiri meski hanya ngontrak. Hanya kita berdua
mendefinisikan arti bahagia yang kita punya. Menafsirkan kemapanan dan
mengejarnya, membuktikan pada dunia kalau kita bisa bahagia. Tapi yang kau
harus tau, bahagiaku adalah ketika bisa bersamamu dalam kondisi apa pun. Apakah
kau mau.
Jika pada
suatu hari nanti ada yang bicara dengan nada sinis, mengomentari kehidupan kita
yang baginya tidak layak. Berilah dia senyum terbaikmu, itu sudah cukup
menjelaskan kalau kebahagiaan itu kita yang rasa bukan mereka kata. Disinilah kesabaran
kita dipertaruhkan, dan yakinlah sakit ini hanya sebentar saja.
Seperti kataku dulu, urusan rumah dan harta kita akan cari bersama.
